Jas Merah

JaS MeRAH

(Jangan Sekali – Kali Melupakan Sejarah)

Rahmat Faisal S*

Kata Orang sejarah pasti berulang. Benar apa nggak yah? memang benar tapi tak salah juga kalau pernyaataan ini dikatakan salah. Kok bisa? Contoh, ketika rezim Soekarno runtuh dengan seabrek permasalahannya, kita sangat mengharapkan penggantinya akan bisa belajar dari sejarah kelam kediktatorannya. Tetapi ternyata sejarah masih berulang, pemerintahan berlangsung dengan penuh penindasan, pembangunan lancar tapi dananya diperoleh dengan berhutang, ekplorasi hasil bumi secara semena-mena dan banyak permasalahan lainnya, yang pasti berakhir dengan tragis.

Belajar dari sejarah, penting gak yah? Ya pentinglah. Menurut R. Andriadi Ahmad, sejarah itu ibarat kaca spion, kita harus sering melihat kaca agar kita tahu kapan harus menancap gas dan kapan harus berhenti. Jika tak melihat kaca spion bisa saja kita ditabrak dari belakang pun jika ngotot melihat kaca spion besar kemungkinan mobil di depan yang akan tertabrak oleh kita. Pada keduanya malapetaka itu pasti akan terjadi. Makanya, sejarah tak boleh disepelekan.

Dahulu Sumatera Barat dikenal sebagai industri otak. Banyak tokoh nasional dan bahkan berkaliber Internasional berasal dari Sumbar. Katakanlah Dr. M. Hatta, M. Yamin, Hamka, M. Natsir, Tan Malaka dan sederetan tokoh lainnya. Mereka semua adalah ”urang-urang gadang” dari Sumbar yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Bangsa Indonesia. Pertanyaannya kok bisa, orang dari kampung bisa menjadi tokoh nasional dan Internasional?. Ternyata mereka adalah kumpulan orang-orang yang sangat gemar membaca, menulis dan berdiskusi. Terlebih Dr M. Hatta, dia adalah figur pemimpin yang sangat rajin membaca buku. Di rumahnya yang sangat kecil dia masih sempat mendirikan pustaka. Ketika ia menikah mas kawinnya adalah buku sehingga ia mendapat julukan kutu buku.

Keberhasilan dan kebanggaan yang mereka wariskan ini juga merupakan sejarah, tapi kenapa sejarah keemasan itu tak lagi berulang saat ini?. Berarti sejarah tak selalu berulang. Agar sejarah ini bisa berulang maka jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tidak melupakan sejarah dengan cara minimal menggapai apa yang telah dicapai para pendahulu kita kalau tidak bisa lebih. Untuk itu memang tak mudah, dibutuhkan kegigihan membaca, bukan hanya hanya buku yang berhubungan dengan spesialisasi ilmu masing-masing tetapi membaca berbagai sumber ilmu. Sebab bacaan itu layaknya makanan, semakin bervariasi maka akan semakin sehat dan membaca adalah makakannya otak.

Pertannyanya adalah sudah berapa banyak buku yang kita baca dan buku apa saja yang telah kita baca? M. Iqbal, seorang pembaharu Pakistan, menganjurkan kepada pemuda-pemudi Pakistan, agar dalam seminggu minimal membaca lima judul buku diluar bidang ilmu mereka masing-masing dan ingat itu belum termasuk koran dan majalah. Salut!. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menggunakan kebiasaan membaca ini sebagai habit kita? Sayang, jangankan membaca buku umum, buku wajib saja banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia yang tidak tuntas. Bagaimana mungkin sejarah kesuksesan akan terulang?

Secara nasional kita juga pernah sukses dengan menjadi guru bagi negara tetangga seperti Malaysia. Hal ini terjadi disaat minat baca secara nasional sangat tinggi dan menggairahkan. Tapi saat ini apa yang terjadi? Lagi-lagi sejarah tak berulang, sejarah ternyata telah berbalik. Saat ini kita yang yang malah berguru dan jauh tertinggal dari Malaysia. Ini juga sejarah sobat, jadi jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Di kancah Internasional, kita kaum muslim juga pernah berjaya menguasai hampir 2/3 dunia. Islam menjadi agama yang disegani karena ilmu pengetahuan dan kegemaran mereka membaca. Lalu bagaimana dengan kondisi Islam saat ini? Lagi-lagi sejarah telah berbalik bukan berulang. Sekali lagi ini adalah sejarah yang harus selalu mengiang di telinga kaum muslimin yang cinta akan bangsa dan agamanya

Untuk membuat sejarah berulang ada tugas berat yang mesti kita pikul, terutama bagi yang merindukan sejarah kesuksesan itu berulang kembali. Banyak membaca dan berdiskusi, menulis, tidak buang-buang waktu, dan tidak melupakan sejarah itu sendiri adalah cara yang dapat kita tempuh untuk mengulang sejarah kesuksesan menjelma di depan mata. Semoga.

· Penulis adalah Wapimred UKH Lensa, Pers Mahasiswa Teknik Industri

· Kordinator L-RAI Fakultas Teknik 2007-2008

· Staff Ahli Departemen PSDM BEM KM Universitas Andalas 2008-2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: